Faktor Dibalik Dominannya Peran Pemain Asing Berdasarkan Efisiensi Tembakan

Sudah menjadi rahasia umum bahwa pemain asing menjadi ujung tombak serangan para kontestan IBL. Para pemain asing menjadi pilihan pertama dan kedua. Suka tidak suka inilah kondisi yang terjadi di kompetisi IBL. Berdasarkan statistik upaya tembakan bahwa pemain asing memiliki rata-rata 13,2 upaya tembakan, sedangkan pemain lokal memiliki rata-rata 3,4 upaya tembakan.

Berdasarkan distribusi produktivitas angka, pemain asing memiliki distribusi yang lebih tinggi dibandingkan pemain lokal, yaitu 61 persen berbanding 39 persen. Penulis memberikan ilustrasi bahwa pemain asing merupakan jalan tol bagi tim untuk menghasilkan produktivitas angka. Namun, jika hanya melihat produktivitas angka tanpa membandingkan dengan variabel yang lain masih akan bias, seperti pernah penulis sampaikan dalam artikel di situs mainbasket “Mengenal Model Pengukuran Statistik Dalam Box Score Traditional”. Untuk itulah penulis menambahkan variabel lain yang penulis ambil dari statistik lanjutan, yaitu efisiensi tembakan.

Jika dilihat dari data efisiensi tembakan, keputusan yang dilakukan oleh kontestan tim IBL dengan menjadikan pemain asing pilihan pertama dan kedua dalam hal serangan menjadi wajar. Secara rata-rata, jika pemain asing melakukan upaya tembakan maka akan menghasilkan 1,14 angka. Hasil efisiensi tembakan yang dilakukan pemain asing sudah berada diatas rata-rata efisiensi tembakan liga. Sementara itu, pemain lokal hanya menghasilkan efisiensi tembakan dibawah rata-rata liga dengan 0,97 angka pada setiap tembakan.

Walau demikian, tidak semua pemain asing yang menghasilkan produktivitas angka diatas rata-rata liga memiliki efisiensi tembakan diatas rata-rata liga. Pemain asing yang telah diganti oleh Bima Perkasa Yogyakarta, David Seagers, dapat menjadi contoh dalam kasus tersebut.

Pemain berjuluk Super Dave itu memiliki produktivitas angka yang impresif dengan rata-rata 16 angka dari 4 laga yang telah dimainkan. Tetapi, produktivitas angka tersebut tidak ditunjang dengan efisiensi tembakan yang impresif untuk ukuran pemain asing. Ironisnya, efisiensi tembakan yang dimiliki Seagers justru dibawah rata-rata efisiensi tembakan pemain lokal.

Apakah rendahnya upaya tembakan menjadi faktor rendahnya efisiensi tembakan pemain lokal?menurut penulis faktor tersebut tidak dapat dijadikan dasar karena semakin tinggi upaya tembakan akan membuat pemain sulit mempertahankan efisiensi serangan. Bahkan, pada musim lalu, pemain dengan efisiensi tembakan tertinggi sekaligus pemain terbaik, Kaleb Ramot Gemilang memiliki 1,56 angka dengan menggunakan upaya tembakan yang lebih rendah dibandingkan Abraham, Widy, dan dua pemain asing Stapac.

Masih rendahnya efisiensi tembakan pemain lokal dapat menjadi dasar bahwa pemain asing menjadi pilihan pertama dan kedua dalam hal serangan. Performa Kaleb musim lalu, dapat menjadi inspirasi bahwa meningkatkan efisiensi tembakan bukan berarti harus meningkatkan upaya tembakan. Meningkatkan efisiensi tembakan dapat dilakukan dengan memaksimalkan setiap penguasaan yang dimiliki.

Penulis menutup artikel ini dengan mengutip salah satu pernyataan Dean Oliver dalam bukunya Basketball On Paper team offense is referred to as good, it is because they are efficient, not because they score a lot of points.

Tinggalkan komentar